Sosis
adalah salah satu produk olahan daging yang sekarang mulai populer di
masyarakat, terutama anak-anak. Pengolahan sosis ini pada awalnya dikembangkan
oleh negara empat musim, yang bertujuan untuk mengawetkan, sehingga mereka
tidak kekurangan daging selama musim dingin.
Istilah
sosis sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu salsus yang berarti asin, merujuk
pada artian potongan atau hancuran daging yang diawetkan dengan penggaraman.
Dari teknologi produksinya, sosis dibuat dari daging yang digiling
(dihaluskan), diberi bumbu lalu dimasukan kedalam selonsong (casing) berbentuk
bulat panjang simetris yang kemudian diolah lebih lanjut.
Berdasarkan
proses pengolahannya, sosis umum dapat dibagi 5 yaitu:
·
Sosis mentah (fresh
sausage) yaitu sosis yang diolah tanpa pemanasan, contohnya polish sausage.
·
Sosis yang dimasak dan
diasap, contohnya frankfuter, bologna, knackwurst
·
Sosis yang dimasak
tanpa diasap, contohnya beer salami, liver sausage
·
Sosis kering,
semikering (atau sosis fermentasi), misalnya summer sausage, cervelat, dry
salami, pepperoni
·
Produk sejenis sosis
yang dimasak, contohnya meat loaves
KANDUNGAN GIZI SOSIS
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995),
sosis yang baik harus mengandung protein minimal 13%, lemak maksimal 25% dan karbohidrat
maksimal 8%. Jika standar ini terpenuhi, maka dapat dikatakan bahwa sosis
merupakan makanan sumber protein. Hanya saja, karena kadar lemak dan kolesterol
sosis yang cukup tinggi, sosis sebaiknya tidak dijadikan menu rutin bagi
anak-anak guna mencegah masalah obesitas dan penyakit-penyakit yang
mengikutinya, dikemudian hari.
CARA MEMILIH SOSIS YANG BAIK
·
Pilih yang masa
kadaluwarsanya masih lama dan dipajang di suhu dingin (refrigerator).
·
Pilih sosis yang bebas
pewarna atau yang mengandung pewarna yang aman untuk pangan (food grade). Jika
anda membeli sosis ternyata daging sosisnya berwarna merah terang, hindari
membeli kembali merk tersebut karena bisa jadi produsen menggunakan pewarna
dalam jumlah berlebihan atau menggunakan pewarna non pangan.
·
Amati penampakan sosis
yang dikemas. Jika terlihat selaput atau lendir tipis seperti susu disekitar
sosis, sebaiknya jangan membeli sosis tersebut karena kondisi ini mencirikan
sosis yang mulai rusak.
·
Pilih sosis yang
aromanya khas daging, tidak ada bau asam atau bau menyimpang lainnya.
Menurut Prof.dr. Bambang Wirjatmadi, seorang ahli gizi, nugget dan sosis jika dikonsumsi
dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek sampingyang tidak baik bagi kesehatan. Ada tiga hal yang
harus diperhatikan mengenai nugget dan sosis:
1.
Daging yang digunakan
daging yang digunakan harus berasal dari daging ayam, sapi atau ikan asli.
Tidak boleh menggunakan daging palsu, daging busuk atau limbah ayam yang
dihancurkan. Komposisinya juga harus tepat, lebih banyak daging daripada
tepung.
2.
Ada tidaknya bahan
tambahan pangan (pengawet, pewarna dan penguat rasa)Nugget dan sosis biasanya
menggunakan zat pengawet buatan untuk memperpanjang umur simpan. Sosis
seringkali juga menggunakan pewarna merah buatan. Sosis dan nugget juga menggunakan
penguat rasa secara berlebihan seperti MSG yang bila dikonsumsi dalam jangka
panjang dapat menimbulkan senyawa penyebab kanker. Bahan pangan olahan (nugget
atau sosis) sebaiknya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, pewarna,
atau penguat rasa buatan.
3.
Kandungan lemak dan
kalori yang tinggi dari daging atau bumbu-bumbu yang digunakan.Jenis daging
yang digunakan dalam nugget dan sosis harus diperhatikan, apakah daging
berlemak tinggi atau rendah. Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan sebaiknya
tidak berkalori tinggi karena dapat menyebabkan bahaya pada anak-anak dalam
jangka panjang.
Kecuali
sosis berbahan alami kini banyak dijual sosis dengan beraneka tambahan bahan
yang bukan untuk makanan. Misalnya, pemakaian pijer atau borax, pewarna pakaian
dan formalin. Pemakaian bahan aditif yang tidak untuk makanan tentunya sangat
berbahaya bagi kesehatan. Akibat yang serius bisa memicu munculnya sel kanker
hingga gangguan fungsi ginjal.
Jika dilihat dari penampilannya, sosis jenis ini terlihat menarik karena warnanya yang mencolok dan agak sulit dibedakan dengan sosis berbahan alami.Saat membeli sosis, kenali ciri-ciri berikut ini agar terhindar dari produk sosis yang berbahan aditif berbahaya.
Jika dilihat dari penampilannya, sosis jenis ini terlihat menarik karena warnanya yang mencolok dan agak sulit dibedakan dengan sosis berbahan alami.Saat membeli sosis, kenali ciri-ciri berikut ini agar terhindar dari produk sosis yang berbahan aditif berbahaya.
Aditif
makanan atau bahan tambahan makanan adalah semua bahan kimia yang dimasukkan
dalam makanan guna untuk meningkatkan kualitas, keenakan, keunikan makanan, dan
lain-lain. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan
buatan atau sintetis.
Jenis Bahan aditif makanan dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok tertentu tergantung kegunaanya, diantaranya:
·
MSG
sebagai penguat rasa makanan dan juga untuk melezatkan makanan. MSG merupakan
zat aditif makanan buatan, sedangkan yang alami diantaranya adalah bunga
cengkeh.
·
Tartrazin
adalah pewarna makanan buatan yang mempunyai banyak macam pilihan warna,
diantaranya Tartrazin CI 19140. Bahan pewarna makanan alami diantaranya adalah
daun pandan.
·
Gom
Arab adalah bahan aditif alami yang gunanya untuk mengemulsi minyak dan air
agar dapat bersatu.
·
Garam
alginat dan gliserin marupakan bahan adtif buatan yang digunakan untuk
menstabilkan dan memekatkan suatu makanan sehinggga dapat membuat makanan
bertekstur lembut dan rata.
Efek samping
Bahan
aditif juga bisa membuat penyakit jika tidak digunakan sesuai dosis, apalagi
bahan aditif buatan atau sintetis. Penyakit yang biasa timbul dalam jangka
waktu lama setelah menggunakan suatu bahan aditif adalah kanker, kerusakan
ginjal, dan lain-lain.
Maka
dari itu pemerintah menagtur penggunaan bahan aditif makanan scara ketat dan
juga melarang pengguanaan bahan aditif makanan tertentu jika dapat menimbulakan
masalah kesehatan yang berbahaya. Pemerintah juga melakukan berbagai penelitian
guna menemukan bahan aditif makanan yang aman dan murah
Sosis berkualitas dan berbahan alami:
- Memakai kemasan yang bermerk dengan keterangan
nama produsen, alamat, tanggal kadaluwarsa, info nutrisi dan nomor
registrasi BPPOM.
- Warnanya cokelat kemerahan alami untuk sosis
daging. Sosis ayam berwarna cokelat pucat.
- Tercium aroma daging sapi atau ayam yang alami.
- Jika ditekan tidak terlalu keras, agak kenyal.
- Saat dipotong terlihat permukaan berpori-pori
kasar sebagai tekstur adonan daging alami.
- Ketika dimasak tidak luntur warnanya dan tidak
mengembang banyak.
- Citarasanya masih terlacak rasa daging yang
kuat disertai bumbu jika dipakai.
- Harganya relatif mahal, per kilogram lebih dari
Rp. 120.000,00
Sosis
yang memakai banyak bahan aditif:
- Biasanya dijual lepas tanpa kemasan.
- Warnanya oranye kemarahan mencolok, dengan
casing yang hampir sama warnanya.
- Aroma daging tidak tercium kuat tetapi justru
aroma seperti obat.
- Teksturnya membal, sangat kenyal.
- Saat dipotong tekstur daging sangat licin halus
tanpa pori-pori.
- Saat dimasak biasanya warnanya luntur.
- Harganya berkisar mulai dari Rp. 80.000,00 per
kilogram
Menurut
Baroto kandungan bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam uji laboratotium
tersebut di antaranya siklamat pada minuman sirup dan formalin pada sosis.
“Hasil ujinya sudah keluar beberapa hari lalu. Memang ditemukan kandungan yang
kadarnya sudah melampaui ambang batas. Karena itu akan akan kami sosialisasikan
kepada pedangan agar tidak menggunakan bahan-bahan itu lagi.” Ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar