Kamis, 10 Januari 2013

inilah sosis


Sosis adalah salah satu produk olahan daging yang sekarang mulai populer di masyarakat, terutama anak-anak. Pengolahan sosis ini pada awalnya dikembangkan oleh negara empat musim, yang bertujuan untuk mengawetkan, sehingga mereka tidak kekurangan daging selama musim dingin.
Istilah sosis sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu salsus yang berarti asin, merujuk pada artian potongan atau hancuran daging yang diawetkan dengan penggaraman. Dari teknologi produksinya, sosis dibuat dari daging yang digiling (dihaluskan), diberi bumbu lalu dimasukan kedalam selonsong (casing) berbentuk bulat panjang simetris yang kemudian diolah lebih lanjut. 
Berdasarkan proses pengolahannya, sosis umum dapat dibagi 5 yaitu:

·         Sosis mentah (fresh sausage) yaitu sosis yang diolah tanpa pemanasan, contohnya polish sausage.
·         Sosis yang dimasak dan diasap, contohnya frankfuter, bologna, knackwurst
·         Sosis yang dimasak tanpa diasap, contohnya beer salami, liver sausage
·         Sosis kering, semikering (atau sosis fermentasi), misalnya summer sausage, cervelat, dry salami, pepperoni
·         Produk sejenis sosis yang dimasak, contohnya meat loaves
KANDUNGAN GIZI SOSIS 
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995), sosis yang baik harus mengandung protein minimal 13%, lemak maksimal 25% dan karbohidrat maksimal 8%. Jika standar ini terpenuhi, maka dapat dikatakan bahwa sosis merupakan makanan sumber protein. Hanya saja, karena kadar lemak dan kolesterol sosis yang cukup tinggi, sosis sebaiknya tidak dijadikan menu rutin bagi anak-anak guna mencegah masalah obesitas dan penyakit-penyakit yang mengikutinya, dikemudian hari. 
CARA MEMILIH SOSIS YANG BAIK
·         Pilih yang masa kadaluwarsanya masih lama dan dipajang di suhu dingin (refrigerator).
·         Pilih sosis yang bebas pewarna atau yang mengandung pewarna yang aman untuk pangan (food grade). Jika anda membeli sosis ternyata daging sosisnya berwarna merah terang, hindari membeli kembali merk tersebut karena bisa jadi produsen menggunakan pewarna dalam jumlah berlebihan atau menggunakan pewarna non pangan.
·         Amati penampakan sosis yang dikemas. Jika terlihat selaput atau lendir tipis seperti susu disekitar sosis, sebaiknya jangan membeli sosis tersebut karena kondisi ini mencirikan sosis yang mulai rusak.
·         Pilih sosis yang aromanya khas daging, tidak ada bau asam atau bau menyimpang lainnya.
Menurut Prof.dr. Bambang Wirjatmadi, seorang ahli gizi, nugget dan sosis jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek sampingyang tidak baik bagi kesehatan. Ada tiga hal yang harus diperhatikan mengenai nugget dan sosis:
1.      Daging yang digunakan daging yang digunakan harus berasal dari daging ayam, sapi atau ikan asli. Tidak boleh menggunakan daging palsu, daging busuk atau limbah ayam yang dihancurkan. Komposisinya juga harus tepat, lebih banyak daging daripada tepung.
2.      Ada tidaknya bahan tambahan pangan (pengawet, pewarna dan penguat rasa)Nugget dan sosis biasanya menggunakan zat pengawet buatan untuk memperpanjang umur simpan. Sosis seringkali juga menggunakan pewarna merah buatan. Sosis dan nugget juga menggunakan penguat rasa secara berlebihan seperti MSG yang bila dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menimbulkan senyawa penyebab kanker. Bahan pangan olahan (nugget atau sosis) sebaiknya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, pewarna, atau penguat rasa buatan.
3.      Kandungan lemak dan kalori yang tinggi dari daging atau bumbu-bumbu yang digunakan.Jenis daging yang digunakan dalam nugget dan sosis harus diperhatikan, apakah daging berlemak tinggi atau rendah. Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan sebaiknya tidak berkalori tinggi karena dapat menyebabkan bahaya pada anak-anak dalam jangka panjang.
Kecuali sosis berbahan alami kini banyak dijual sosis dengan beraneka tambahan bahan yang bukan untuk makanan. Misalnya, pemakaian pijer atau borax, pewarna pakaian dan formalin. Pemakaian bahan aditif yang tidak untuk makanan tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan. Akibat yang serius bisa memicu munculnya sel kanker hingga gangguan fungsi ginjal.

Jika dilihat dari penampilannya, sosis jenis ini terlihat menarik karena warnanya yang mencolok dan agak sulit dibedakan dengan sosis berbahan alami.Saat membeli sosis, kenali ciri-ciri berikut ini agar terhindar dari produk sosis yang berbahan aditif berbahaya.
Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah semua bahan kimia yang dimasukkan dalam makanan guna untuk meningkatkan kualitas, keenakan, keunikan makanan, dan lain-lain. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis. 

Jenis Bahan aditif makanan dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok tertentu tergantung kegunaanya, diantaranya: 
·         MSG sebagai penguat rasa makanan dan juga untuk melezatkan makanan. MSG merupakan zat aditif makanan buatan, sedangkan yang alami diantaranya adalah bunga cengkeh. 
·         Tartrazin adalah pewarna makanan buatan yang mempunyai banyak macam pilihan warna, diantaranya Tartrazin CI 19140. Bahan pewarna makanan alami diantaranya adalah daun pandan. 
·         Gom Arab adalah bahan aditif alami yang gunanya untuk mengemulsi minyak dan air agar dapat bersatu. 
·         Garam alginat dan gliserin marupakan bahan adtif buatan yang digunakan untuk menstabilkan dan memekatkan suatu makanan sehinggga dapat membuat makanan bertekstur lembut dan rata.

Efek samping 
Bahan aditif juga bisa membuat penyakit jika tidak digunakan sesuai dosis, apalagi bahan aditif buatan atau sintetis. Penyakit yang biasa timbul dalam jangka waktu lama setelah menggunakan suatu bahan aditif adalah kanker, kerusakan ginjal, dan lain-lain.

Maka dari itu pemerintah menagtur penggunaan bahan aditif makanan scara ketat dan juga melarang pengguanaan bahan aditif makanan tertentu jika dapat menimbulakan masalah kesehatan yang berbahaya. Pemerintah juga melakukan berbagai penelitian guna menemukan bahan aditif makanan yang aman dan murah

Sosis berkualitas dan berbahan alami:
  • Memakai kemasan yang bermerk dengan keterangan nama produsen, alamat, tanggal kadaluwarsa, info nutrisi dan nomor registrasi BPPOM.
  • Warnanya cokelat kemerahan alami untuk sosis daging. Sosis ayam berwarna cokelat pucat.
  • Tercium aroma daging sapi atau ayam yang alami.
  • Jika ditekan tidak terlalu keras, agak kenyal.
  • Saat dipotong terlihat permukaan berpori-pori kasar sebagai tekstur adonan daging alami.
  • Ketika dimasak tidak luntur warnanya dan tidak mengembang banyak.
  • Citarasanya masih terlacak rasa daging yang kuat disertai bumbu jika dipakai.
  • Harganya relatif mahal, per kilogram lebih dari Rp. 120.000,00

Sosis yang memakai banyak bahan aditif:
  • Biasanya dijual lepas tanpa kemasan.
  • Warnanya oranye kemarahan mencolok, dengan casing yang hampir sama warnanya.
  • Aroma daging tidak tercium kuat tetapi justru aroma seperti obat.
  • Teksturnya membal, sangat kenyal.
  • Saat dipotong tekstur daging sangat licin halus tanpa pori-pori.
  • Saat dimasak biasanya warnanya luntur.
  • Harganya berkisar mulai dari Rp. 80.000,00 per kilogram
Menurut Baroto kandungan bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam uji laboratotium tersebut di antaranya siklamat pada minuman sirup dan formalin pada sosis. “Hasil ujinya sudah keluar beberapa hari lalu. Memang ditemukan kandungan yang kadarnya sudah melampaui ambang batas. Karena itu akan akan kami sosialisasikan kepada pedangan agar tidak menggunakan bahan-bahan itu lagi.” Ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar